KAWASAN LABUHAN

Kompleks - 4

Labuan Deli merupakan bandar atau pusat Kesultanan Deli dimana teriadi aktivitas lalu lintas
perdagangan yang diangkut dari hulu ke hili. Kesultanan Deli yang diperkirakan berdiri tahun
1632, sebelumnya diinformasikan pusatnya adalah di Deli Tua. Ramainya perdagangan di Deli. membuat banyak pedagang-pedagang dari luar daerah berdagang ke Labuan Deli. Daerah-
Daerah tersebut adalah Aceh, Semenanjung Malaya dan pedagang asing yang pada abad ke-16
sudah mulai mencari daerah penghasil rempah. Keadaan in kelamaan membentuk persaingan
antara kekuasaan-kekuasaan bear antara lain Aceh, Johor di Semenanjung Malaya dan bangsa
barat yang diawali dengan pedagang Portugis. Komoditas unggulan perdagangan saat itu adalah
lada dan pala. Ramainya aktivitas perdagangan berdampak pada pendapatan yang akan masuk
ke kas pemerintah atau kesultanan. Pendapatan utama kesultanan sebelum kehadiran
perkebunan adalah mengandalkan cukai dan pajak yang ada di pelabuan. Pada tahun 1822
ekspor lada dari Labuhan Deli telah mencapai kurang lebih 1000 koyan atau 26.000 pikul. Adapun
padi di Deli hanya untuk konsumsi masyarakat sendiri sehingga tidak diekspor, kecuali kalau hasil
panen melimpah barulah padi diekspor. Semua komoditas yang diekspor melalui Deli akan dikirim
ke pelabuhan-pelabuhan daerah seberang seperti Penang, Malaka dan Singapura. Begitupun
komoditas impor didatangkan dari pelabuhan-pelabuhan daerah seberang tersebut ke Deli.
Sepenuhnya perdagangan dan pelayaran di Deli dijalankan oleh syahbandar.
Pergolakan politik kerajaan terus bergulir, tahun 1780, Kesultanan Siak menaklukkan daerah
Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya, termasuk wilayah Deli dan
Serdang. Kemudian, kesultanan Siak pada tahun 1858 takluk kepada pemerintahan Belanda.
Setelah Belanda berhasil menguasai sebagian bear wilayah Pantai Timur Sumatra melalui
traktat Siak pada 01 Februari 1858, maka secara sepihak Belanda mengakui daerah bawahan
Siak akan menjadi jajahannya. Penempatan kontrolir pertama di Labuhan Deli J.A.M de Cats
Baron de Rat telah membuat kebijakan yang sangat menguntungkan untuk perdagangan di
Labuan Deli. Salah satu kebijakannya adalah membangun kembali gudang-gudang
penyimpanan komoditas yang sebelumnya terbakar habis beberapa waktu sebelum
kedatangannya. Hal in dilakukannya semata-mata untuk menghidupkan kembali perdagangan
yang sebelumnya sudah ramai. Sejalan dengan kebijakan tersebut banyak penduduk kemudian
membangun toko atau kedai untuk meramaikan pekan (pasar) itu kembali. Toko-toko yang
dibangun sudah permanen dengan menggunakan bata dan lebih teratur yang letaknya berderat
memanjang dari kiri ke kanan jalan. Labuan menjadi semakin ramai setelah berkembangnya
perkebunan tembakau. Sehingga pada tahun 1800-an terjalin perdagangan di Labuan Deli
dengan berbagai wilayah yang sebagian besar adalah wilayah Asia dan Eropah. Berdasarkan
kuantitas kapal dan muatan, negara-negara atau wilayah yang banyak melakukan hubungan
dagang dengan Labuan Deli adalah Penang, Singapura dan Inggris. Namun pembangunan
Pelabuhan modem di Belawan dan sedimentasi yang terus menerus terjadi di muara Sungai Deli
mengakibatkan Labuan mulai ditinggalkan, apalagi setelah Deli Maatschappij memindahkan
kantomya ke daerah pedalaman dekat pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Kondisi
Labuan semakin terpuruk ketika kapal-kapal tidak lagi merapat di Labuan sejak kegiatan
ekspor-impor sejak dipindahkan ke Belawan pada tahun 1890, sekitar 2 km dari Labuhan
(Airriess, 1991 dalam Fitri, 2016). Kemudian, Kesultanan Deli juga ikut serta memindahkan pusat
pemerintahannya dan membangun istana barunya yang dikenal dengan Istana Maimun.

(Cagar budaya yang sudah di tetapkan dalam Surat Keputusan Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021)
Informasi Detail
Alamat:-
Kel. Medan Labuhan, Kec. Kelurahan Pekan Labuhan
Penanggung Jawab:-
Status Kepemilikan:Perusahaan
No. Telp:-
2
3
Informasi Budaya Lainnya
RIA AGUNG NUSANTARA...
Drs. Monang Butar-Butar
LEBAH BEGANTONG...
Papan Nama jamaludin