Kawasan Merdeka - Kesawan

Kompleks Pemko Medan 4

Kawasan Kesawan Lapangan Merdeka merupakan salah satu titik tempat awal berkembangnya
Kota Medan karena perpindahan pemerintahan dari Labuan ke Kota Medan berada di titik
pertemuan antara Sungai Deli dan Sungai Babura. Pergerakan Kota Medan pada tahun 1868
hingga saat in dimulai kawasan Merdeka-Kesawan merupakan dataran rendah yang merupakan
daerah bukan pantai. Karakteristik bentang alam Kesawan yaitu topografi yang mendatar dengan
ketinggian wilayah antara 3-27 m di atas permukaan laut. Selain itu, karakteristik alam Kawasan
Merdeka-Kesawan yang perlu menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan di Kawasan
Merdeka-Kesawan yaitu wilayah sempadan sungai, khususnya daerah sekitar aliran Sungai Deli
yang telah dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kepentingan, terutama permukiman maupun
perdagangan dan jasa. Pada Kawasan Merdeka-Kesawan terdapat sungai, yaitu Sungai Deli
yang menjadi bentang alam yang ada di Kawasan Merdeka-Kesawan dan menjadi batas wilayah
perencanaan. Selain itu, dengan mempertimbangkan curah hujan 2808 mm/tahun yang dihitung
hari hujan sebanyak 189 hari, maka kawasan perencanaan cook untuk dikembangkan kawasan
perkotaan (permukiman perkotaan serta perdagangan dan jasa).
Kawasan Kesawan adalah the heart of Medan. Julukan tersebut tidak berlebihan mengingat
bahwa Pemerintah Kolonial Belanda sendiri meletakkan titik nol kota di dalam kawasan ini. Air
Mancur Nienhuys yang dibangun pada sekitar tahun 1915 Masehi didepan Kantor Pos Besar
Medan adalah titik nol yang dimaksud. Meski air mancur itu kini telah musnah, namun sebuah air
mancur lainnya berdiri persis diatas tapak Air Mancur Nienhuys. Sebagai jantung kota, apa yang
menarik dari Kesawan adalah built heritage property di kawasan in yang jumlahnya mencapai
lebih dari 200 bangunan, meski dengan kondisi yang sebagian besar tidak terawat. Jumlah itu
menjadikan kawasan in sebagai kawasan dengan warisan bangunan bersejarah terbanyak di
Kota Medan. Bukan hanya itu, sebagian bear landmark penanda kota Medan berada ditempat
ini. Sebut saja Medan Stadhuis atau Balai Kota Lama, Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos
Besar, Stasiun Kereta Api beserta Titi Gantung-nya, Gedung Harrison and Crossfield atau yang
lebih dikenal kini sebagai Gedung London Sumatra, Tjong A Fie Mansion, dan tentu saja
Esplanade tau Lapangan Merdeka.
Kawasan Kesawan sendiri berdiri diatas lahan seluas lebih kurang 62 Ha. Batas utara kawasan
ini adalah sebagian Jalan H.M. Yamin. Dahulu Jalan H.M.Yamin ini bernama Serdang Weg.
Sementara batas kawasan Kesawan di selatan adalah Jalan Palang Merah. Jalan Palang Merah
sendiri pada masa kolonial bernama Kerk Strat. Batas Kesawan di barat adalah alur Sungai
Deli, sementara di timur adalah Jalan Kereta Api. Jalan Kereta Api sendiri pada masa kolonial
bernama Spoor Weg yang juga berarti jalan kereta api jika dialihbahasakan dari bahasa Belanda
ke Bahasa Indonesia. *Meski secara sekilas wajah built heritage property di kawasan ini lebih
bercorak kolonial maupun China Oriental, namun Kesawan sesungguhnya memiliki warisan
budaya yang lebih kompleks bahkan jika dibandingkan kawasan heritage lainnya di Medan. Balai
Kota Lama dan Kantor Pos Bear bisa disebut sebagai bangunan yang mewakili budaya kolonial,
sementara Tong A Fie Mansion bisa menjadi wakil China Oriental. Namun, selain dua wakil
tersebut, Mesjid Lama Gang Bengkok dan Madrasah Islamiyah Tapanuli di Jalan Mesiid dan
Jalan Hindu adalah wakil budaya pribumi yang tersembunyi di kawasan Kesawan.
Jika kajian atau publikasi tentang kawasan kota lama Medan yang merujuk pada Kesawan lebih
mengedepankan warisan-warisan kolonial maupun Oriental China, Mesjid Lama Gang Bengkok 
dan Madrasah Islamiyah Tapanuli di Jalan Hindu adalah bukti bahwa kawasan in lebih dari
sekedar jantung kota yang menjadi milk non pribumi. Mesid Lama Gang Bengkok yang oleh
banyak orang lebih dianggap merepresentasikan budaya Oriental hanya karena a bergaya
arsitektur ke-china-china-an pada dasarnya lebih bernilai budaya lokal meski dengan sedikit
citarasa oriental. Kehadiran Mesid Lama tersebut dan Madrasah Islamiyah Tapanuli yang
sesungguhnya bersebelahan lokasi adalah sebuah pasangan yang membentuk rang budaya
yang klop antara institusi keagamaan berbentuk mesjid dengan institusi pendidikan berbasis
agama. Keberadaan kedua warisan tersebut juga mengindikasikan kehadiran pribumi yang
sudah cukup lama dikawasan Kesawan. Kedua bangunan tersebut setidaknya sudah ada sejak
sebelum tahun 1930, meski kemungkinan besar belum dalam bentuk yang seperti sekarang.
Paling tidak Medan mash beruntung memiliki dua warisan yang terpinggirkan tersebut.
Jalan Mesjid sendiri yang menjadi lokasi keberadaan Mesjid Lama Gang Bengkok member ruang
budaya yang cukup bag Orang-orang China untuk membuat perkumpulan sekaligus memainkan
atraksi budaya barongsai dalam hari-hari tertentu setiap tahunnya. Jalan itu memang menjadi
konsentrasi utama orang China di Kesawan. Meski meniadi konsentrasi orang China, Jalan
Mesjid juga menjadi lokasi organisasi Al Waslivah. Bahkan, Madrasah Islamiyah Tapanuli yang
dulunya berada dibelakang Mesjid Gang Bengkok sehingga lebih mudah dicapai dari Jalan
Mesjid, merupakan lokasi terbentuk organisasi Al-Wasliyah pada tahun 1930. Sekarang,
Madrasah Islamiyah Tapanuli tersebut lebih mudah dicapai dari Jalan Hindu.
Jalan Hindu sendiri merupakan sebuah nama jalan yang telah ada sejak masa kolonial. Pada
masa kolonial, jalan itu adalah Hindoe Straat. Konon, sebelum Kampong Keling/kampung Madras
menjadi kawasan Little India-nya Medan, disekitar jalan Hindu-lah para buruh Tamil yang akan
dipekerjakan di perkebunan dimukimkan. Sayangnya, jejak-jejak sejarah dan budaya mereka
hilang tak berbekas kecuali hanya meninggalkan nama jalan Hindu saja.
Sebuah nama jalan lain di kesawan, yang berhubungan dengan etnisitas adalah Jalan Arab
Jalan kecil itu, kemungkinan besar memang bernama Arab Straat pada masa kolonial.
Jika jalan Hindu tidak memiliki jejak Hindu apapun diruas jalannya, Jalan Arab sendiri memiliki sebuah
mesid bernama Al- Musawwa. Selain mesjid, di jalan tersebut kita bisa menemukan penjual jamu
Arab. Keberadaan orang Arab di Jalan Arab sendiri memang tidak begitu kelihatan kecuali jejak
mesjid dan jamu-nya saja. Tapi di Kesawan, orang-orang berwajah keturunan Arab mash bisa
dilihat di kawasan pertokoan Pajak (kan Lama. Mereka berdagang kain, perlengkapan sholat dan
haji di tempat tersebut dan jika ditanya sejak kapan mereka berada dikawasan ini, jawabannya
adalah sejak pasar itu berdiri. Namun keberadaan Arabian di Kesawan tidak muncul dalam
bentuk built and property, hingga seringkali deskripsi budaya tentang Kesawan seringkali
menafikan keberadaan Arabian. Kemudian, perkembangan kawasan dari tahun ketahun seiring
dengan pembangunan di kota Medan.
 
 
 
 
 
Informasi Detail
Alamat:Lapangan Merdeka Medan
Kel. Medan Barat, Kec. Kelurahan Kesawan
Penanggung Jawab:Pemko Medan
Status Kepemilikan:Perusahaan
No. Telp:-
2
3
Informasi Budaya Lainnya
RIA AGUNG NUSANTARA...
Drs. Monang Butar-Butar
LEBAH BEGANTONG...
Papan Nama jamaludin